Perkenalkan nama saya Nafatul Maysaroh, mahasiswa baru dari prodi S1 Pendidikan dokter Fakultas Kedokteran, dengan nim 25101796, saya menempuh perkuliahan di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya dan sedang melaksanakan PKKMB hari kedua.Materi I
Ainun Najib - Ahli IT Indonesia
Tema: Perguruan Tinggi di Era Digital dan Revolusi Industri

Kecerdasan buatan di era digital dan revolusi industri. Tapi izinkan saya mulai dengan sesuatu yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Hari ini, kata “AI” sudah bukan hal asing lagi. Yang kita sebut AI sekarang umumnya adalah ChatGPT, Gemini, dan sebagainya. Saya yakin adik-adik juga sering menggunakannya entah untuk belajar, mencari informasi, atau bahkan, jujur saja, untuk membantu mengerjakan PR. Bahkan anak-anak kecil pun sekarang sudah terbiasa memakai AI untuk belajar. Lalu pertanyaannya, seperti apa sebenarnya era AI yang sedang kita hadapi ini? Banyak pakar menyebut bahwa kita sedang berada di tengah revolusi industri berikutnya. Kalau mau dianalogikan, kehadiran AI ini mirip seperti saat manusia pertama kali menemukan listrik. Sesuatu yang dampaknya luar biasa besar, yang mengubah cara kita hidup, bekerja, dan belajar. Kalau dulu listrik menjadi katalis lahirnya berbagai teknologi baru, maka sekarang AI adalah katalis yang sama besar pengaruhnya. Bedanya, kalau listrik itu ciptaan fisik, AI ini ciptaan digital. Tapi keduanya sama-sama mengubah dunia. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana kita bisa siap menghadapi era ini. Bagaimana kita bisa menggunakan teknologi untuk berkembang, bukan malah terjebak oleh kemudahannya. Saya ingin mengutip pemikiran Kai-Fu Lee, seorang tokoh AI, yang tahun 2018 menulis buku AI Superpowers. Sudah tujuh tahun lalu beliau mengatakan, “AI akan semakin canggih, akan mengotomasi hampir semua pekerjaan.” Tapi beliau juga menegaskan ada dua hal yang tidak akan bisa digantikan AI.
Yang pertama adalah kreativitas.
AI memang cerdas, tapi belum tentu cerdik. AI hanya bisa belajar dari data yang sudah ada, lalu merangkum dan menyajikan kembali. Tapi menciptakan ide baru, gagasan yang betul-betul orisinal itu hanya manusia yang bisa. Dalam keyakinan kita sebagai umat Islam, ada istilah ilmu laduni, ilmu yang datang langsung dari Allah. Inilah sumber kreativitas sejati yang tak mungkin dimiliki mesin.
Yang kedua adalah rasa kemanusiaan: empati, kasih sayang, compassion.
AI bisa meniru kata-kata lembut, seolah-olah memahami kita. Tapi sebenarnya dia hanya meniru dari data. Dia tidak sungguh-sungguh merasakan. Jadi walaupun bisa terdengar bijak, AI tidak bisa menjiwai nilai kemanusiaan yang autentik. Itu hanya milik manusia.
Dua hal inilah kreativitas dan rasa kemanusiaan yang harus dikembangkan sebagai mahasiswa. Karena itulah bekal yang tidak bisa digantikan oleh teknologi secanggih apapun.
Era AI ini penuh peluang sekaligus tantangan. Yang pintar memanfaatkan, akan melesat maju. Tapi yang hanya terlena dengan kemudahan, bisa tertinggal. Karena itu, mari kita hadapi era baru ini dengan kesiapan, dengan semangat belajar, dan dengan keyakinan bahwa manusia tetap punya kelebihan yang tak tergantikan.
Materi V
Dr. Nurul Ghufron, S.H., M.H. - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2019-2024
Tema: Generasi Muda Berintegritas Anti Korupsi

Kalau kita bicara soal ilmu, perlu diingat bahwa tujuan utama mencari ilmu bukan sekadar untuk gelar, pekerjaan, atau dunia semata. Yang paling utama adalah mencari ridha Allah SWT. Ilmu itu hanyalah alat, instrumen, jalan untuk lebih dekat kepada Allah. Guru, dosen, ulama, semuanya adalah perantara, tapi orientasi akhirnya harus tetap kepada Allah. Kalau kita sungguh-sungguh mencari Allah melalui ilmu, yakinlah Allah akan menyambut kita jauh lebih cepat. Orang yang seperti ini insyaAllah akan tumbuh dengan integritas. Sebaliknya, kalau ilmu atau kekayaan hanya dikejar untuk kepuasan dunia, maka tidak akan pernah cukup. Dikasih satu gunung emas, ingin dua. Dikasih dua, ingin tiga. Dunia memang tidak pernah membuat kita puas, justru membuat semakin haus.
Mari kita lihat contoh sederhana. Ada jembatan peninggalan Belanda ratusan tahun lalu, sampai sekarang masih berdiri. Tapi ada jembatan yang baru dibangun di masa sekarang, beberapa bulan saja sudah rusak. Kenapa bisa begitu? Karena dana yang seharusnya cukup dipakai tidak sepenuhnya untuk membangun, tapi ada yang dikorup. Dampaknya luar biasa. Sekolah yang mestinya bisa dibangun jadi terbengkalai. Anak-anak tidak bisa sekolah. Di bidang kesehatan juga sama. Biaya obat yang mestinya cukup satu juta bisa membengkak jadi dua atau lima juta, karena ada permainan. Bahkan alat kesehatan kadang dibeli padahal tidak dibutuhkan, hanya demi keuntungan. Jadi, korupsi itu bukan hanya merusak pembangunan, tapi juga merugikan masyarakat secara langsung. Secara global, bahkan PBB sudah menegaskan sejak tahun 2003 bahwa korupsi merusak banyak hal: merusak demokrasi, karena suara rakyat dibeli dengan amplop; merusak hukum, karena pasal bisa diperjualbelikan; merusak kualitas manusia, karena izin-izin dipermainkan; merusak pasar, karena harga dan kualitas jadi tidak wajar; sampai melanggar hak-hak dasar masyarakat. Nah, kuncinya untuk mencegah semua ini adalah integritas. Integritas berarti kejujuran, amanah, kesesuaian antara kata dan perbuatan. Kalau bangsa ini ingin maju, kalau pelayanan publik ingin adil, kalau pembangunan ingin berumur panjang, maka integritas harus menjadi fondasi.
Kesimpulan :
Kita adalah calon tenaga kesehatan, calon pemimpin masa depan. Ilmu yang kalian pelajari harus diiringi dengan integritas. Karena tanpa integritas, ilmu akan sia-sia. Mari kita jadikan diri kita orang-orang yang bukan hanya cerdas, tapi juga jujur, amanah, dan berintegritas. Dengan begitu, kita bisa memberi manfaat sebesar-besarnya bagi bangsa, negara, dan agama.
Materi VII
Muslikha Nourma Rhomadhoni, S.KM., M.Kes. - Kaprodi D4 K3
Tema : Pengenalan Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (K3L) di Perguruan Tinggi
Kita semua yang hadir di sini adalah generasi penerus, generasi yang akan ikut serta membangun Indonesia menjadi bangsa yang maju. Untuk itu, salah satu hal penting yang harus kita pahami bersama adalah penerapan K3L Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan. Mengapa? Karena K3L ini bukan hanya soal aturan, tapi juga cara kita menjaga diri, menjaga sesama, sekaligus menjaga lingkungan sekitar. Tujuan penerapan K3L setidaknya ada dua hal besar.
Pertama, mencegah kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu berdampingan dengan potensi bahaya, entah bahaya fisik, kimia, biologi, maupun faktor lainnya. Dengan menerapkan K3L, kita bisa mengurangi risiko tersebut, sehingga tetap sehat dan selamat selama menempuh studi.
Kedua, melindungi lingkungan dari pencemaran dan kerusakan. Kita tahu, industri memberi manfaat besar, bahkan mungkin orang tua atau saudara kita bekerja di sana. Tapi di sisi lain, industri juga berpotensi mencemari lingkungan. Maka dari itu, kita pun punya peran setidaknya mulai dari diri sendiri. Kalau melihat pencemaran, jangan diam saja. Kita bisa melaporkan, mengingatkan, atau menggunakan media sosial dengan bijak untuk ikut berkontribusi menjaga lingkungan.
Prinsip utama K3L adalah “mencegah lebih baik daripada menanggulangi.” Bahaya mungkin tidak bisa kita hilangkan sepenuhnya, tapi kita bisa mengantisipasi dan meminimalisir risikonya. Caranya antara lain dengan mematuhi SOP di setiap tempat. Misalnya, di auditorium selalu ada safety induction, di laboratorium ada aturan penggunaan bahan kimia, dan semua itu harus kita patuhi agar terhindar dari kecelakaan. Yang terpenting, K3L ini bukan hanya soal aturan yang ditempel di dinding, tapi soal kesadaran dan partisipasi semua pihak. Kalau semua mematuhi aturan, dari hal sederhana seperti parkir di tempat yang benar, mengikuti instruksi laboran, sampai menjaga kesehatan tubuh masing-masing, maka suasana belajar akan lebih aman dan nyaman. Akhirnya, tujuan besar kita adalah menjadi mahasiswa yang produktif dan sehat. Produktif artinya bisa menyelesaikan studi tepat waktu, berprestasi akademik maupun non-akademik, aktif berorganisasi, bahkan mungkin berwirausaha. Semua itu hanya bisa dicapai kalau kita punya tubuh yang sehat, pikiran yang segar, dan lingkungan yang mendukung. Jadi, mari kita sama-sama menerapkan budaya K3L, bukan hanya demi diri sendiri, tapi juga demi teman-teman kita, keluarga, masyarakat, dan tentu saja demi Indonesia emas di masa depan.
Komentar
Posting Komentar