Tugas Materi PKKMB Day 1

 

Perkenalkan nama saya Nafatul Maysaroh, mahasiswa baru dari prodi S1 Pendidikan dokter Fakultas Kedokteran, dengan nim 25101796, saya menempuh perkuliahan di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya dan sedang melaksanakan PKKMB hari pertama.

Materi I 

Prof. Yudi Latif, MA., Ph.D - Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan-Indonesia/ PSIK-Indonesia

Tema: Kehidupan Berbangsa, Bernegara, Jati Diri Bangsa, dan Pembinaan Kesadaran Bela Negara

Hal ini harus menjadi bahan renungan bagi calon-calon pemimpin Indonesia di masa depan. Karena saudara berada di sini bukan sekadar sebagai mahasiswa, melainkan bagian dari kelompok noblesse oblige—kelompok yang memiliki kehormatan sekaligus tanggung jawab. Hanya sebagian kecil dari bangsa Indonesia yang mendapat kesempatan menempuh pendidikan tinggi. Maka, di balik kehormatan itu melekat tanggung jawab besar. Sering kali kita lihat banyak orang ingin mendapatkan kehormatan, jabatan, status, dan pengaruh, tetapi tidak mau memikul tanggung jawabnya. Padahal sebagai mahasiswa, Anda adalah kelompok terdidik, kelompok istimewa. Dan sekali lagi, setiap kehormatan selalu dibarengi dengan tanggung jawab. Sejarah membuktikan, Indonesia sejak awal adalah bangsa pelopor. Seperti ditulis oleh David Van Reybrouck, seorang sejarawan Belgia, dalam bukunya Revolusi Indonesia, ia mengatakan dunia sering lupa bahwa Indonesia adalah bangsa pertama yang dengan berani mendeklarasikan kemerdekaan setelah Perang Dunia II. Kemerdekaan kita berbeda dari bangsa lain yang diberikan atau dihadiahkan penjajahnya. Indonesia meraihnya melalui perjuangan dan pengorbanan sendiri. Pertempuran Surabaya menjadi episentrum besar perlawanan gigih bangsa ini, dan kemerdekaan Indonesia kemudian menjadi model bagi gerakan dekolonisasi di Asia dan Afrika. Vietnam dengan Ho Chi Minh meniru taktik gerilya Indonesia. Aljazair menginspirasi perjuangannya dari kita. Bahkan Nelson Mandela di Afrika Selatan pun banyak terinspirasi oleh perjuangan Indonesia. Tidak hanya itu, Indonesia juga merajut solidaritas bangsa-bangsa bekas jajahan melalui Konferensi Asia-Afrika di Bandung. Peristiwa ini mengubah wajah dunia. Dari yang tadinya hanya didominasi Blok Barat dan Blok Timur, lahirlah Gerakan Non-Blok, yang menjadi kekuatan baru di dunia. Gerakan ini juga mengilhami perjuangan hak-hak sipil di Amerika Serikat, khususnya gerakan emansipasi warga kulit hitam. Namun, ketika kita memasuki abad ke-21—abad Asia—pertanyaan besar muncul: di mana posisi Indonesia? Setelah 80 tahun merdeka, capaian kita banyak, tetapi jika dibandingkan dengan negara-negara yang merdeka sezaman, kita tampak tertinggal. Korea Selatan, Tiongkok, India—semuanya kini melaju pesat. Sementara Indonesia yang dulu dijuluki Macan Asia justru mengalami perlambatan, kembali bertumpu pada ekspor bahan mentah. Di mana letak persoalannya? Bung Karno pernah mengutip sejarawan Inggris, A.G. Wells: “Yang menentukan besar kecilnya suatu bangsa bukan luas wilayah atau jumlah penduduknya, melainkan kualitas dan karakter manusianya.” Bung Hatta pun menegaskan, bangsa Indonesia hanya akan luhur apabila memiliki kelapangan mental, keluasan wawasan, dan kedalaman karakter. Inilah yang harus kita kembangkan. Indonesia adalah bangsa majemuk dengan lebih dari 300 suku dan 700 bahasa, keragaman agama, adat, politik, dan lapisan sosial. Tantangan kita adalah bagaimana menyatukan keragaman ini, mencari titik temu di tengah perbedaan, agar bangsa ini benar-benar bisa berdiri sejajar dan dihormati di mata dunia. Manusia pada dasarnya cenderung merasa lebih dekat dengan yang sama agama, identitas, atau kelompoknya. Sementara terhadap yang berbeda, sering muncul prasangka, sikap anti-asing, bahkan xenofobia. Tetapi kita beruntung, karena Tuhan menganugerahi manusia sebuah kemampuan yang tidak dimiliki makhluk lain, yaitu neokorteks. Dengan otak inilah kita bisa menciptakan iman, nilai, dan imajinasi yang melampaui batas identitas. Bagaimana caranya? Dengan mengenali yang asing, bukan menjauhinya. Pepatah kita bilang, tak kenal maka tak sayang. Dalam Al-Qur’an pun ditegaskan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, bukan untuk saling menjauh, melainkan untuk saling mengenal. Karena itu, hal pertama yang harus kita kembangkan adalah jaringan pengenalan dan konektivitas. Yang kedua, adalah jaringan inklusivitas. Inklusivitas berarti kesetaraan akses-akses pendidikan, kesehatan, hukum, layanan publik, hingga partisipasi politik. Jika akses dan peluang hanya dikuasai oleh golongan tertentu berdasarkan keluarga, wilayah, agama, atau gender maka akan lahir kecemburuan dan retakan sosial. Sejarah menunjukkan, di masyarakat dengan kesenjangan tinggi, mudah sekali muncul gejolak. Kita bisa lihat contohnya di Amerika Serikat saat ini, di mana ketimpangan ekonomi memicu kembali sentimen anti-imigran dan rasisme. Membangun persatuan nasional Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan tentara atau polisi. Mustahil menjaga setiap jengkal tanah dengan kekuatan aparat. Namun, menarik bahwa masyarakat di pulau-pulau terluar seperti Morotai dan Miangas tetap merasa bagian dari Indonesia meski jarang tersentuh pejabat pusat. Mengapa? Karena ada jaringan ingatan sejarah perjuangan bersama dan ada optimisme bahwa sekalipun berada di pinggiran, mereka tidak didiskriminasi; bila berprestasi, mereka bisa ikut menentukan jalan sejarah republik. Inilah yang kita ikat dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Gus Dur pernah menjelaskannya sederhana: “Kalau yang berbeda, jangan disamakan. Kalau yang sama, jangan dibeda-bedakan.” Perbedaan adalah fakta yang harus dihormati, dan pada saat yang sama kita punya unsur-unsur pemersatu: kemanusiaan yang sama, tumpah darah yang sama, konstitusi dan dasar negara yang sama, lambang negara yang sama, serta bahasa persatuan yang sama. Keragaman bukan sumber malapetaka, justru sumber kekuatan. Di alam, ekosistem yang majemuk lebih tangguh dibanding yang monokultur. Demikian pula bangsa: jika keragaman dikelola dengan bijak, ia memperkaya kita, memperkuat kita. Namun, agar keragaman menjadi kekuatan, ia harus diikat oleh nilai bersama, yaitu integritas. Integritas berasal dari kata Latin integer, artinya utuh. Nilai-nilai integritas menjadi perekat seperti semen pada tumpukan bata. Tanpa integritas, bangsa mudah pecah oleh konflik, saling curiga, atau adu kuasa. Karena itu pembangunan bangsa tidak cukup dengan modal finansial atau keterampilan teknis. Kita perlu modal integritas nilai yang memberi jaminan rasa saling percaya. Dan para pendiri bangsa kita telah mewariskan perekat itu dalam bentuk Pancasila. Kejeniusan Pancasila adalah kemampuannya menyederhanakan hal yang kompleks menjadi dasar bersama yang sederhana dan universal. Albert Einstein pernah mengatakan bahwa inti dari penemuan besar adalah menemukan kesederhanaan dari hal yang rumit. Leonardo da Vinci pun menegaskan, simplicity is the ultimate sophistication. Inilah kehebatan Pancasila: sederhana, tetapi mampu menampung keragaman besar bangsa Indonesia. Kesederhanaan yang justru menjadi kekuatan ini juga tampak dalam bahasa Indonesia. Bahasa yang inklusif, sederhana, tanpa konjugasi rumit, tanpa bias gender, dan kini diakui UNESCO sebagai bahasa persatuan yang berhasil menyatukan bangsa majemuk dengan lebih dari 800 bahasa daerah. Maka, jika kita ingin membangun Indonesia ke depan, kuncinya ada pada tiga hal: konektivitas, inklusivitas, dan integritas. Dengan itu, keragaman akan menjadi sumber kekuatan, bukan kelemahan.

Materi II

Erisandy Yudhistira Priority Banking Manager Bank Mandiri

Tema: Penguatan Literasi Keuangan dan Kesejahteraan Mahasiswa

Penguatan Literasi Keuangan untuk Meningkatkan Kesejahteraan Mahasiswa: Strategi & Manfaat Literasi keuangan yang kuat merupakan fondasi krusial bagi kesejahteraan mahasiswa, tidak hanya selama masa kuliah tetapi juga jauh setelahnya. Berikut adalah pembahasan komprehensif mengenai pentingnya, strategi penguatan, dan dampaknya terhadap kesejahteraan mahasiswa:

I. Mengapa Literasi Keuangan Mahasiswa Penting?

Masa Transisi Kritis: Mahasiswa seringkali pertama kali mengelola keuangan secara mandiri (uang saku, beasiswa, gaji part-time), jauh dari pengawasan langsung orang tua.

Tantangan Finansial Khas Mahasiswa:

  •  Biaya kuliah yang tinggi dan terus meningkat.
  •  Biaya hidup (kos, makan, transport, buku).
  •  Keterbatasan sumber penghasilan tetap.
  •  Tekanan sosial untuk konsumsi (gadget, gaya hidup, hiburan).
  •  Potensi terjerat utang (pinjol, kredit tanpa agunan, KTA).

Dampak Langsung pada Kesejahteraan:

  • Kesejahteraan Finansial: Menghindari utang berlebihan, mampu memenuhi kebutuhan dasar, memiliki dana darurat, mulai menabung/investasi.
  •  Kesejahteraan Akademik: Mengurangi stres finansial yang bisa mengganggu konsentrasi belajar dan prestasi akademik.
  •  Kesejahteraan Mental & Emosional: Mengurangi kecemasan, depresi, dan masalah kesehatan mental yang sering dipicu oleh masalah uang.
  •  Kesejahteraan Masa Depan: Membangun fondasi kebiasaan keuangan sehat untuk mencapai tujuan jangka panjang (rumah, investasi, pensiun).

II. Strategi Penguatan Literasi Keuangan Mahasiswa

Penguatan ini memerlukan pendekatan multi-pihak dan berkelanjutan:

Peran Perguruan Tinggi (Kampus):

Integrasi ke Kurikulum: Menyisipkan materi literasi keuangan dalam mata kuliah wajib (misal: Pengantar Ekonomi, Kewirausahaan) atau mata kuliah pilihan khusus (Manajemen Keuangan Pribadi, Perencanaan Investasi).

  •  Workshop & Seminar Reguler: Mengadakan sesi interaktif dengan topik spesifik:
  •  Pengelolaan anggaran & cash flow.
  •  Memahami utang (pinjaman pendidikan, pinjol, KKT).
  •  Dasar-dasar investasi (reksa dana, saham, emas) untuk pemula.
  •  Perlindungan asuransi (kesehatan, jiwa).
  •  Pengenalan e-wallet & transaksi digital yang aman.
  •  Menghindari penipuan keuangan.

Layanan Konseling Keuangan: Menyediakan konsultan keuangan (bisa internal atau kolaborasi dengan profesional eksternal) untuk konsultasi personal secara gratis atau terjangkau.

 Platform Digital: Mengembangkan aplikasi atau portal kampus dengan:

  •  Kalkulator anggaran & pinjaman.
  •  Modul pembelajaran online (video, infografis, artikel).
  •  Simulasi investasi.
  •  Informasi beasiswa & pembiayaan kuliah.

Kolaborasi dengan Pihak Eksternal: Menggandeng OJK, Bank Indonesia, lembaga keuangan (bank, fintech), atau komunitas profesional untuk memberikan materi dan sumber daya.

Inisiatif Mahasiswa & Komunitas:

  •  Klub/Komunitas Literasi Keuangan: Membentuk wadah bagi mahasiswa yang antusias untuk belajar bersama, berbagi pengalaman, dan mengadakan aktivitas (diskusi, webinar, kompetisi).
  •  Program Mentoring: Mahasiswa senior atau alumni yang berpengalaman bisa menjadi mentor bagi mahasiswa junior dalam mengelola keuangan. 
  • Kampanye Kesadaran: Menggunakan media sosial kampus atau komunitas untuk menyebarkan tips, infografis, dan cerita inspiratif tentang manajemen keuangan yang sehat.

Peran Individu (Mahasiswa):

  • Proaktif Mencari Informasi: Memanfaatkan sumber daya yang tersedia (perpustakaan, internet terpercaya, workshop kampus).
  • Menerapkan Pengetahuan: Mulai membuat anggaran pribadi, mencatat pengeluaran, menabung secara konsisten (meski kecil), dan menghindari utang konsumtif.
  • Membangun Jaringan: Bergabung dengan komunitas atau mencari mentor untuk berdiskusi dan bertanya.
  • Mengembangkan Mindset: Menumbuhkan kesadaran bahwa literasi keuangan adalah investasi jangka panjang untuk masa depan yang lebih baik.

III. Dampak Penguatan Literasi Keuangan terhadap Kesejahteraan Mahasiswa

Peningkatan Kesejahteraan Finansial:

  •  Mahasiswa mampu mengelola uang saku/beasiswa dengan lebih efektif.
  •  Penurunan tingkat utang konsumtif yang tidak produktif.
  •  Munculnya kebiasaan menabung dan mulai berinvestasi dini.
  •  Kesiapan menghadapi biaya tak terduga (dana darurat).

 Peningkatan Kesejahteraan Akademik:

  •  Penurunan tingkat stres terkait uang, sehingga fokus belajar meningkat.
  •  Potensi peningkatan IPK dan kelulusan tepat waktu.
  •  Kemampuan membuat keputusan finansial yang lebih baik terkait pembiayaan studi lanjut.
  •  Peningkatan Kesejahteraan Mental & Emosional:
  •  Penurunan gejala kecemasan dan depresi yang berhubungan dengan masalah keuangan.
  •  Peningkatan rasa percaya diri dan kontrol atas hidup.
  •  Hubungan sosial yang lebih harmonis (kurang konflik karena uang).

Peningkatan Kesejahteraan Masa Depan:

  • Lulus dengan beban utang yang lebih terkendali (jika ada).
  • Memulai karir dengan fondasi keuangan yang lebih kuat (tidak "nol besar"). 
  • Kesiapan untuk merencanakan dan mencapai tujuan hidup jangka menengah dan panjang (rumah, nikah, investasi, pensiun). 
  • Menjadi anggota masyarakat yang finansial mandiri dan berkontribusi.

IV. Tantangan & Solusi

Tantangan: Minat mahasiswa yang rendah (dianggap "membosankan"), keterbatasan sumber daya kampus, stigma soal uang, kesulitan menerapkan teori ke praktik.

Solusi:

  • Pendekatan Menarik: Gunakan gamifikasi, studi kasus nyata, teknologi (aplikasi), dan bahasa yang relevan dengan gaya hidup mahasiswa.
  • Advokasi & Kolaborasi: Menekankan pentingnya literasi keuangan kepada pihak kampus dan mencari mitra untuk mendukung program.
  • Lingkungan Aman: Ciptakan ruang diskusi tanpa judgment untuk berbagi masalah keuangan. 
  • Fokus pada Aplikasi Praktis: Berikan workshop yang langsung bisa diterapkan (misal: workshop membuat anggaran dengan aplikasi tertentu).

 Kesimpulan: Penguatan literasi keuangan bukanlah sekadar tambahan pengetahuan, melainkan investasi strategis dalam aset terpenting bangsa: sumber daya manusia berkualitas. Dengan menyediakan akses yang mudah, relevan, dan berkelanjutan terhadap pendidikan keuangan, perguruan tinggi, komunitas, dan mahasiswa itu sendiri secara kolektif dapat membangun generasi yang tidak hanya cerdas akademis, tetapi juga cerdas finansial. Ini adalah kunci untuk membuka pintu menuju kesejahteraan holistik mahasiswa—sejahtera finansial, akademis, mental, dan masa depan—yang pada akhirnya akan mencetak lulusan yang tangguh, mandiri, dan siap berkontribusi maksimal bagi masyarakat.

Materi III

Prof. Kacung Marijan, Drs., MA.,Ph.D - Wakil Rektor 1 UNUSA

Tema : Sistem Pendidikan Tinggi di UNUSA

Profil Umum UNUSA
Afiliasi: UNUSA adalah perguruan tinggi swasta di Surabaya, Jawa Timur, yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia. Nilai-nilai ke-NU-an (moderasi, toleransi, kearifan lokal) menjadi dasar pengembangan keilmuan dan karakter.
Visi & Misi: Umumnya fokus pada mencetak lulusan yang unggul, berakhlak mulia, dan berkontribusi pada pembangunan bangsa dengan memadukan keilmuan universal dan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja).
Status: Terakreditasi oleh BAN-PT (Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi).

2. Struktur Akademik
Fakultas dan Program Studi: UNUSA menyelenggarakan pendidikan melalui berbagai fakultas. Contoh program studi yang umumnya ada (perlu dicek di website resmi untuk update):
  •  Fakultas Kedokteran: Program Studi Pendidikan Dokter, Profesi Dokter.
  •  Fakultas Kesehatan Masyarakat: S1 Kesehatan Masyarakat.
  •  Fakultas Ilmu Kesehatan: S1 Keperawatan, S1 Farmasi, D3 Kebidanan, Profesi Ners.
  •  Fakultas Sains dan Teknologi: S1 Teknik Informatika, S1 Biologi.
  •  Fakultas Ekonomi dan Bisnis: S1 Manajemen, S1 Akuntansi.
  •  Fakultas Agama Islam: S1 Pendidikan Agama Islam, S1 Ekonomi Syariah, S1 Perbankan Syariah.
  •  Fakultas Psikologi: S1 Psikologi.
  •  Fakultas Hukum: S1 Ilmu Hukum.
  •  Jenjang Pendidikan: Menawarkan program:
  •  Sarjana (S1): Durasi 4 tahun (8 semester).
  •  Profesi: Untuk bidang kesehatan (Dokter, Ners, Apoteker) setelah S1.
  •  Diploma (D3): Durasi 3 tahun (6 semester), misalnya D3 Kebidanan.
3. Sistem Pembelajaran
Sistem Kredit Semester (SKS): Sistem utama di UNUSA, sesuai standar nasional.1 SKS: Setara dengan 50 menit aktivitas per minggu selama 1 semester (16 minggu), mencakup tatap muka, tugas, ujian, dan studi mandiri.
Beban Studi: Rata-rata 20-24 SKS per semester untuk S1.
Kurikulum:
  • Kurikulum Nasional: Mengacu pada Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN-DIKTI) dan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).
  • Kurikulum Khas UNUSA: Mengintegrasikan nilai-nilai Aswaja dan ke-NU-an (misal: mata kuliah Ke-NU-an, Bahasa Arab, Pendidikan Agama Islam dengan perspektif Aswaja) ke dalam berbagai program studi, termasuk non-keagamaan.
  • Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM): Implementasi program pemerintah untuk fleksibilitas pembelajaran (magang, pertukaran pelajar, proyek di desa, dll).
  • Metode Pembelajaran: Kombinasi
  • Tatap Muka (Offline): Kuliah, praktikum (khususnya kesehatan), diskusi.
  • Blended Learning: Perpaduan offline dan online (menggunakan LMS seperti Moodle, Google Classroom, atau platform UNUSA).
  •  Student-Centered Learning: Mendorong partisipasi aktif mahasiswa, diskusi, presentasi, dan penelitian sederhana.
 Penilaian: Berdasarkan:
  •  UTS (Ujian Tengah Semester)
  •  UAS (Ujian Akhir Semester)
  •  Tugas Individu/Kelompok
  •  Kehadiran & Partisipasi
  •  Praktikum/Projek
  •  Indeks Prestasi (IP): Skala 0.00 - 4.00.
  •  4. Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru
Jalur Pendaftaran: Umumnya mencakup:
  • Jalur Prestasi/Akademik: Bagi siswa dengan nilai rapor/UN yang tinggi.
  • Jalur Ujian Mandiri (UM-UNUSA): Tes tertulis (biasanya TPA, Tes Potensi Akademik, dan Tes Bidang Studi) yang diselenggarakan UNUSA.
  • Jalur SPAN-PTKIN: Seleksi bersama masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (diikuti beberapa PTKIN dan PTS Islam seperti UNUSA).
  • Jalur UM-PTKIN: Ujian masuk bersama PT Islam (serupa SPAN-PTKIN).
  • Jalur Hafidz/Hafidzah: Khusus untuk penghafal Al-Qur'an (biasanya ada kuota khusus).
 Persyaratan Umum:
  •  Lulus SMA/SMK/MA/Sederajat.
  •  Memenuhi nilai rata-rata yang ditentukan (tergantung jalur).
  •  Surat keterangan sehat (khusus untuk prodi kesehatan).
  •  Pas foto, ijazah/transkrip nilai (legalisir), dll.
5. Sistem Penjaminan Mutu
  • Akreditasi: Program studi dan institusi diakreditasi oleh BAN-PT. Peringkat akreditasi (Unggul, A, B, C) menjadi indikator kualitas.
  •  Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI): UNUSA memiliki sistem untuk memastikan mutu:
  •  Evaluasi Kurikulum: Rutin dilakukan penyesuaian.
  •  Evaluasi Pembelajaran: Melalui kuisioner mahasiswa, evaluasi dosen.
  •  Audit Mutu Internal: Dilakukan oleh unit penjaminan mutu universitas.
  •  Pelaksanaan Standar: Mengacu pada Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan SN-DIKTI.
  •  Tracer Study: Melacak lulusan untuk mengetahui relevansi kurikulum dengan dunia kerja dan kepuasan pengguna lulusan.
 6. Layanan Mahasiswa & Fasilitas
  • Layanan Akademik: Biro Administrasi Akademik (BAA), sistem informasi akademik online (untuk KRS, nilai, jadwal, keuangan).
  • Layanan Kemahasiswaan: Biro Kemahasiswaan dan Alumni (Bimbingan konseling, beasiswa, aktivitas ormawa/UKM, pengembangan softskill).
  • Perpustakaan: Fisik dan digital (e-journal, e-book).
  • Laboratorium: Lab praktikum (khususnya untuk prodi kesehatan, sains, teknologi), lab komputer, lab bahasa.
  • Fasilitas Umum: Ruang kelas ber-AC, masjid/kampus musholla, wifi area, kantin, area parkir, fasilitas olahraga.
  • Rumah Sakit Pendidikan: Untuk prodi kesehatan (biasanya bekerjasama dengan RS NU atau RS lain di Surabaya).
 7. Biaya Pendidikan
Komponen Biaya: Umumnya terdiri dari:
  •  SPP (Sumbangan Pengembangan Pendidikan): Dibayar sekali di awal masuk (bisa dicicil).
  •  SPP Tetap/SPP Variabel: Dibayar per semester (besarnya tergantung program studi dan jenjang).
  •  Biaya Praktikum/Keterampilan: Khusus prodi tertentu (kedokteran, keperawatan, farmasi, dll).
  •  Biaya Registrasi & Kegiatan Mahasiswa.
  •  Kemudahan Pembayaran: Biasanya tersedia cicilan dan beasiswa (Beasiswa Prestasi, Beasiswa Tahfidz, Beasiswa Bidikmisi (KIP Kuliah), Beasiswa dari Yayasan/Lembaga, dll).
 8. Karakteristik Khas UNUSA
  • Penguatan Nilai Aswaja: Integrasi nilai Islam moderat, toleran, dan berbasis kearifan lokal dalam semua aspek akademik dan non-akademik.
  • Fokus pada Kesehatan: Memiliki fakultas/prodi kesehatan yang kuat (Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, Keperawatan, Farmasi) dengan fasilitas pendukung.
  • Keterlibatan dalam Masyarakat: Mendorong mahasiswa dan dosen untuk terlibat dalam pengabdian masyarakat (KKN) yang berbasis pada nilai-nilai sosial-keagamaan.
  • Lingkungan Kampus Religius: Atmosfer Islami dengan kegiatan keagamaan rutin (pengajian, dll) yang terbuka dan inklusif.
Kesimpulan : Sistem Pendidikan Tinggi di UNUSA mengikuti kerangka standar nasional Indonesia (SKS, SN-DIKTI, KKNI, BAN-PT) namun memiliki keunikan dalam integrasi nilai-nilai Aswaja dan ke-NU-an ke dalam kurikulum, lingkungan kampus, dan pengembangan karakter mahasiswa. UNUSA menawarkan berbagai program studi, dengan keunggulan khusus di bidang kesehatan dan keagamaan, didukung oleh fasilitas yang memadai dan komitmen terhadap penjaminan mutu. Sistem penerimaan mahasiswa beragam dengan kemudahan biaya melalui beasiswa.

Media sosial UNUSA :

Facebook

Instagram

Youtube

Twitter (X)

Tiktok

Lihat juga blog teman saya : https://auliasyabana.blogspot.com/2025/09/materi-pkkmb-day-1.html


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resume Kolaborasi Internasional: UNUSA dan UNICEF Bersama QANTAS Australia Pantau Program Anak di Puskesmas dan Sekolah

Tugas Materi PKKMB Day 2